TokoIDN.com - Portal Berita Terhangat di Indonesia: Liga Indonesia

3 Pemain Lokal dengan Gaji yang Menggiurkan di Liga 1 2020

Makassar – Sepak bola adalah olahraga yang paling digemari para penduduk di dunia.

Baik itu kaum adam maupun kaum hawa, baik yang tua maupun yang muda.

Bahkan tak jarang orang menjadikan sepak bola sebagai profesi ataupun menjadikannya cita-cita.

Selain karena jiwa nasionalisme ketika bermain untuk bangsa, gaji yang tinggi pun menjadi daya tarik  untuk masyarakat.

Berbicara sepak bola, kerap kali selalu identik dari kemewahan dan gaji yang selangit.

Bukan hanya para pemain luar negeri, tetapi tak jarang pemain lokal pun mendapatkan gaji selangit.

Dilansir dari CNN. Indonesia, berikut beberapa pemain lokal dengan gaji yang cukup tinggi dan fantastis dalam kategori masyarakat Indonesia.

1. Stefano Lilipaly
Pemain lokal  dengan gaji tertinggi di tempati oleh Lilipaly. Pemain blasteran Belanda-Indonesia ini di bandrol dengan harga Rp 6,3 Miliar per tahun.

Bukan tanpa alasan, pemain yang bermain di Bali United ini, kerap kali menjadi langganan Tim Nasional Indonesia( TIMNAS) di beberapa turnamen di ASEAN.

BACA JUGA :Jelang Belgia vs Prancis, Martinez Dipusingkan Komposisi Skuadnya

2.Febri Hariady
Pemain kelahiran Bandung 19 Februari 1996 ini, di bandrol dengan harga Rp 5,9 Miliar.

Pemain lincah yang berposisi sebagai winger ini, bermain untuk Persib Bandung juga kerap kali menjadi langganan Timnas baik di kategori junior maupun senior.

Kecepatan dan skillnya dalam mengolah si kulit bundar memang tidak diragukan lagi. Bahkan tak jarang membuat mata pencinta sepak bola terkagum melihat aksinya di lapangan hijau.

3. Evan Dimas
Nama Evan Dimas tidak asing lagi ditelinga para pecinta sepak bola Indonesia.

Pemain kelahiran Surabaya 13 Maret 1995 ini, memang menjadi langganan Timnas.

Jadi tidak heran kalo Klub Persija Jakarta berani membanderolnya dengan harga Rp 5,2 Miliar.

Mantan kapten Timnas-19 dibawah asuhan pelatih Indra Sjafri tersebut, pernah membawa Timnas-19 juara piala AFF pada tahun 2013 silam.

Itulah tiga pemain lokal yang dibanderol dengan harga yang fantastis. Bagaimana pendapat teman-teman, layak nggak?.

Namun terpenting bukan soal berapa gajinya, tetapi bagaimana kontribusinya bagi klub dan Tim Nasional Indonesia yang dibelanya.

Perusahaan Indonesia Akuisisi Saham Klub Bola Spanyol

Jakarta – Akademi sepakbola Indonesia, yakni ASIOP mengakuisisi klub Spanyol C.D Polillas Ceuta. Itu diumumkan di Gedung Graha BIP, Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Akuisisi ini dilakukan lewat Batavia Sports Group (BSG) yang merupakan kolaborasi antara ASIOP dan Batavia Pictures. Langkah ini diharapkan bisa menjadi jembatan pemain Indonesia ke Eropa.

Fokus pengelolaan BSG nantinya adalah mengembangkan bakat pemain muda Indonesia. Kebetulan, Polillas Ceuta bertanding di Division de Honor Juvenil de Futbol yang merupakan kompetisi kasta tertinggi U-19 di Spanyol.

BSG pun menyiapkan beasiswa kepada pemain-pemain berbakat di Indonesia untuk ikut merasakan latihan bahkan hingga bergabung ke Polillas Ceuta. Rencana tahun ini, sebanyak 2-4 pemain Indonesia akan diterbangkan ke sana.

“Alhamdulillah berkat dukungan semua pihak, BSG berhasil mengambil alih satu klub di Spanyol berikut akademinya. Ini merupakan mimpi dengan semangat nasionalisme yang
direncanakan dengan baik, dan dengan dukungan semua pihak, kami dapat merealisasikannya,” kata Direktur Utama BSG, Ade Prima Syarif, dalam keterangan persnya.

“Spanyol memiliki regulasi yang memungkinkan pemain muda dari Indonesia bermain di klub yang mengikuti Liga U-19 Division de Honor Juvenil maupun tim seniornya di La Liga dan Segunda, sehingga anak-anak bisa menambah jam terbang di liga usia muda terbaik di dunia,” ujarnya menambahkan.

Mengutip dari laman resmi klub, Polillas Ceute sebenarnya terdaftar di kompetisi Division de Honor Juvenil de Futbol dengan nama La Gimnastica de Ceuta. Namun pihak klub mengalami krisis dampak dari COVID-19 yang merebak sejak awal tahun ini.

Bisa jadi pergantian nama terjadi karena akuisisi yang dilakukan oleh BSG. Sementara itu, tim senior Polillas Ceuta hanya tampil di Tercera Division yang merupakan strata keempat dalam piramida kompetisi sepakbola di Spanyol.

BSG enggan mengungkap besaran kepemilikan saham setelah keberhasilan mereka mengakuisisi Polillas Ceuta. Namun BSG memastikan bahwa mereka punya saham mayoritas dan punya kuasa penuh untuk mengambil kebijakan.

Kebetulan, akuisis ini juga memastikan perombakan struktur komisaris klub. Hasrul Zain mendapat jabatan strategis sebagai Wakil Presiden klub.

“Kami mendapatkan persentase yang signifikan di awal (akuisisi). Secara bertahap kami akan tambah porsinya. Nilai spesifik belum bisa kami sebut, tapi yang pasti signifikan,” kata Hasrul Zain.

“Jadi secara signifikan di mana kami punya keistimewaan karena pengambilan keputusan ada di kami. Jadi kalau buat pemain (Indonesia) dikirim pun kami yang memegang kuotanya,” tutur Ade Prima menimpali.

Secara geografis, lokasi Kota Ceuta dirasa cocok buat pemain Indonesia secara budaya dan cuaca. Apalagi muslim juga menjadi mayoritas di sana karena lokasinya yang berada di daratan Afrika Utara dan terpisah dari daratan utama Spanyol.

Ceuta merupakan kota dengan status otonomi khusus Spanyol. Meski Spanyol adalah bahasa resmi di sana, namun bahasa Darija Arabic juga lazim digunakan di Ceuta.

Pihak BSG yakin kondisi itu sangat membantu buat para pemain Indonesia untuk berkarier di sana. Jadi pemain tak perlu adaptasi budaya hingga cuaca.

“Di sana banyak tersedia makanan halal karena lokasinya yang berbatasan dengan Maroko. Memang Ceuta ini secara geografis di ujung titik dari daratan Afrika. Tapi sebenarnya masih bagian spanyol dan berbatasan dengan Maroko,” tutur Hasrul Zain.

“Makanya budaya muslimnya banyak menyerap dari Maroko. Tapi kalau dari daratan Spanyol masih dekat dan perjalanan (laut) nggak sampai satu jam.”

“Kotanya memang sekitar 100 ribu penduduk dan sangat hangat orang-orangnya, jadi kalau orang Indonesia nggak akan mengalami adjustment process yang lama dan bisa langsung fokus ke sepakbola. Muslim pun bisa berbaur, salat bisa di masjid dan itu lazim dilakukan di sana,” ucap Hasrul Zain bercerita.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto menyambut positif hal ini. Ia mengapresiasi niatan anak-anak dalam negeri untuk memajukan sepakbola Indonesia.

“Ini penting sekali ya, investor Indonesia berani akuisisi klub asing. Meski bukan yang pertama kali tetapi ini memungkinkan talenta-talenta muda bisa menggunakan klub itu untuk berlatih mendapatkan pengalaman lebih jauh, apalagi tadi dikatakan BSG merupakan pengambil keputusan,” kata Gatot.

Selain Gatot, Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, juga hadir dalam acara ini. Ia juga mengapresiasi langkah yang diambil oleh BSG.

“Ini hal yang sangat positif, mengapa saya tadi sudah bercerita ini menjadi pintu masuk pemain kita berkiprah di eropa saya pikir ada kuota jadi tidak bisa dipaksa jadi ada kualitas yang akan bermain di sana,” kata Indra Sjafri.

“Ini menjadi kesiapan kami di dalam negeri harus lebih baik, kalau selama ini ada trial itu tingkat errornya tinggi. Tapi kalau dimatangkan di dalam kompetisi memudahkan para talent scouting Eropa memudahkan mencari bakat pemain kita,” ucapnya.

Demi Sepak Bola Indonesia, PSSI Harus Damai dengan Shin Tae-yong

JAKARTA — Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menunggu kehadiran pelatih Shin Tae-yong di Indonesia untuk membahas kembali program tim nasional yang sempat terganggu oleh pandemi Covid-19. Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi telah berkirim surat dan Shin diharapkan tiba pada pekan depan.

“Ketum (PSSI) minta dia datang untuk reevaluasi program, program kan sudah tidak berlaku karena ada Covid-19. Tanggal 29 Juni kami harapkan STY sudah tiba di Jakarta,” kata Shin saat dihubungi, Kamis (25/6/2020).

Kedua pihak harus segera bertemu untuk membahas terkait persiapan Piala Asia U-19 yang akan digelar pada 14-31 Oktober mendatang di Uzbekistan dan kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia dan Piala AFF 2020 untuk timnas Senior. Dua agenda yang berlangsung bersamaan ini menjadi alasan PSSI tidak menyetujui pemusatan latihan (TC) di Korea, seperti yang pernah diminta oleh Shin.

“Event-nya bersamaan, bulan Oktober. Maka dua timnas ini harus TC bersamaan dengan pelatih kepalanya Shin Tae-yong,” kata dia.

Saat ini, timnas Indonesia U-19 masih melakukan seleksi dengan jumlah 44 pemain turut serta dalam TC virtual sejak pertengahan Mei lalu. Kedatangan Shin ke Indonesia untuk memutuskan kerangka tim untuk lanjut ke pemusatan latihan. Selain itu, kontrak Shin dengan PSSI bukan hanya mengurus timnas U-19 tapi juga U-16 dan senior.

Picu Rasa Kesal Netizen, Akun Instagram Indra Sjafri Diserbu

Kolom akun Instagram Indra Sjafri, @indrasjafri_coach diserbu oleh netizen yang memenuhi kolom komentar dengan ucapan-ucapan bernada miring.

Ada alasan mengapa netizen menyerbu akun Instagram pelatih berusia 57 tahun tersebut. Pernyataan Indra Sjafri di situs PSSI diduga memicu rasa kesal netizen.

Mantan pelatih Timnas Indonesia U-22 itu membuka hubungan rumah tangga antara Shin Tae-yong dengan PSSI. Indra Sjafri menyebut pelatih asal Korea Selatan itu telah melakukan pembohongan publik, tidak profesional, dan semena-mena dengan PSSI.

Netizen meyakini Indra Sjafri tengah tebar pesona untuk mencongkel kursi Shin Tae-yong sebagai pelatih Timnas Indonesia. Apalagi, dalam beberapa kesempatan, ia telah terang-terangan menginginkan jabatan tersebut.

Komentar netizen tentu beragam. Namun, komentar populer kebanyakan bernada negatif. Indra Sjafri dianggap ngebet untuk mengambil posisi Shin Tae-yong.

Ada pula yang menyarankan kedua belah pihak untuk lebih profesional dan membicarakan inti permasalahannya dengan kepala dingin.

Sebelumnya Indra Sjafri melakoni sesi wawancaranya dengan Hanif & Rendy Show di YouTube yang tayang pada 19 Juni 2020. Kala itu eks pelatih Bali United ini meminta doa agar bisa menangani Timnas Indonesia.

“Saya nyaman di semua tempat. Mau di mana pun. Walaupun saya punya rekam jejak kepelatihan dari Timnas Indonesia U-17, U-18, U-19, dan terakhir U-22. Timnas Indonesia senior yang belum. Doakan saja,” ucap Indra Sjafri.

Mulai September, Liga 1 Bakal Dipusatkan di Jawa

Shopee Liga 1 2020 rencananya akan kembali digulirkan pada bulan September mendatang. Namun, kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia itu akan dipusatkan di Pulau Jawa.

Dan, meskipun belum ada keputusan terkait kelanjutan kompetisi, PSSI sudah mempersiapkan diri. Federasi sepak bola Indonesia itu, bahkan sudah menginventarisasi wilayah yang akan dijadikan tempat.

“Kami, PSSI dan LIB sedang inventaris. DKI, Jabar, Jateng, Jatim kita check semua,” kata Yoyok Sukawi, anggota Komite Eksekutif PSSI kepada Bola.net, Senin (15/6/2020).

Tidak hanya itu, menurut pria bernama lengkap Alamsyah Satyanegara Sukawijaya itu, PSSI sudah membangun komunikasi dengan pemerintah daerah yang akan dipilih.

Namun, pria yang juga menjabat sebagai CEO PSIS Semarang itu, pihaknya tidak akan serta merta menentukan venue. Sebab, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi.

“Utama ijin dari pemerintah daerah setempat dan kepolisian setempat,” pria asal Semarang itu menambahkan.

Yang pasti, kata Yoyok, wilayah yang akan menjadi tempat bergulirnya Shopee Liga 1 2020 harus benar-benar bebas dari Covid-19. Karena keselamatan pemain dan seluruh elemen harus diutamakan.

Wonderkid Indonesia, Witan Sulaeman Debut di Liga Serbia

Pemain muda Indonesia, Witan Sulaeman akhirnya menjalani debut di level Eropa bersama timnya, Radnik Surdulica. Hanya saja, debut pemain berusia 18 tahun tidak mampu membawa timnya meraih kemenangan.

Radnik Surdulica memainkan laga pekan ke-29 Liga Super Serbia pada Minggu (14/6/2020) dini hari WIB melawan Radnicki Nis. Pada duel yang digelar di Stadion Surdulica itu, Radnik Surdulica kalah dengan skor 2-4.

Simo Krunic, pelatih Radnik Surdulica, memasukkan nama Witan Sulaeman pada daftar susunan pemain. Dia memilih untuk tidak memainkan pemain jebolan Diklat Ragunan tersebut sejak menit awal laga.

Witan Sulaeman baru dimainkan pada menit ke-65. Saat itu, andalan timnas Indonesia U-19 tersebut menggantikan peran Bogdan Stamenkovic. Witan lantas bermain hingga pertandingan lawan Radnicki Nis hingga usai.

Hanya saja, debut Witan Sulaeman tidak berjalan mulus. Sebab, Radnic Surdulica justru menelan kekalahan dari Radnicki Nis.

Saat Witan Sulaeman masuk, skor masih imbang 1-1. Radnic Surdulica unggul lebih dulu pada menit ke-23 lewat gol Predrag Djordjevic. Namun, tiga menit sebelum babak pertama usai, Stefan Mihajlovic mampu menyamakan skor.

Setelah Witan masuk, ada tiga gol yang tercipta. Hanya satu yang dicetak timnya lewat aksi Milan Makaric. Sedangkan, tiga gol dicetak Radnicki Nis lewat bunuh diri Miroljub Kostic, Stefan Mihajlovic, dan Nikola Cumic.

Radnik Surdulica sendiri tidak sedang dalam performa yang bagus. Mereka selalu gagal menang dalam tujuh laga terakhir [2 imbang, 4 kalah]. Radnik Surdulica berada di papan bawah klasemen.

Radnik Surdulica baru mendapatkan 30 poin dari 29 laga yang dimainkan. Kini, mereka berada di posisi ke-12 klasemen dari 16 peserta Liga Super Serbia.

Ricardo Malaiholo, Calon Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia

Ricardo Malaiholo merupakan salah satu nama calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia. Berikut kami akan menyajikan 3 fakta sang pemain.

Malaiholo merupakan bek keturunan Indonesia yang memulai karier sepak bola juniornya bersama klub Liga Belanda, PEC Zwolle U-17.

Penampilan apiknya di level junior membuat nama Malaiholo masuk ke dalam skuat senior. Itu tak terlepas dari penilaian sang pelatih tim utama.

Pada musim 2011/12 lalu, Malaiholo pun masuk ke dalam skuat senior Zwolle, yang saat itu tengah berjuang untuk promosi ke kasta tertinggi sepak bola Belanda, Eredivisie.

Namun menurut Soccerway, Malaiholo tidak mendapatkan satu kali kesempatan untuk bermain di tim senior Zwolle. Ia hanya satu kali masuk ke dalam daftar pemain cadangan.

Itu terjadi ketika Zwolle berhasil membantai habis Dordrecht dengan skor 5-0. Setelah itu, Malaiholo tak pernah lagi masuk ke dalam daftar pemain Zwolle di Eerste Divisie 2011/12.

Situasi ini akhirnya membuat Malaiholo lebih sering bermain bersama tim junior Zwolle. Bermain di Eerste Divisie U-21 2012/13, Malaiholo menjadi bagian penting Zwolle U-21. Dirinya dipercaya untuk bermain sebanyak 21 kali dalam satu musim.

Terlepas dari itu, 3 fakta calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia, Ricardo Malaiholo.

Serba Guna

Malaiholo nyatanya memiliki kemampuan untuk memainkan berbagai posisi. Hal ini menjadi salah satu keunggulan pemain berusia 26 tahun tersebut.

Selain menjadi seorang bek kanan, ia juga pernah dimainkan sebagai bek kiri, bek tengah, gelandang bertahan, gelandang tengah, hingga pemain sayap kanan.

Namun saat ini posisi terbaiknya yang ia mainkan adalah bek kanan. Posisi itu terbilang cukup cocok untuk Malaiholo, mengingat dirinya punya kemampuan bertahan dan menyerang yang cukup apik.

Juara Eerste Divisie

Kendati tak pernah tampil di tim senior, Maliholo tercatat dalam daftar pemain saat Zwolle menjadi juara Eerste Divisie musim 2011/12 lalu.

Zwolle sukses menempati posisi puncak di klasemen akhir kasta kedua Liga Belanda dengan koleksi 72 poin, hasil dari 22 kemenangan, enam hasil imbang dan enam kali kalah.

Hasil manis itu membuat Zwolle pun berhak mendapatkan satu tempat di Eredivisie pada musim berikutnya. Menurut Soccerway, Malaiholo pun tetap dicantumkan ke dalam daftar pemain senior.

Pernah Hadapi Pemain Berdarah Indonesia

Salah satu pemain berdarah Indonesia yang pernah dihadapi langsung oleh Malaiholo adalah Vinnie Vermeer. Itu terjadi ketika Malaiholo menjadi bagian dari klub Go Ahead Eagles U-21.

Sedangkan Vermeer terdaftar sebagai pemain NAC Breda U-21. Pada pertandingan pekan ke-3 Eredivisie U-21 tersebut, Malaiholo dkk. harus tumbang 1-3 di markas lawan.

Stadion GBK Masuk Stadion Terbaik di Asia

Kuala Lumpur – Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) merilis daftar lima stadion megah dan ikonik yang ada di kawasan Asia Tenggara. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), yang berada di Senayan, Jakarta, menjadi salah satunya.

Markas timnas Indonesia tersebut bersanding dengan empat stadion lainnya, yakni Stadion Bukit Jalil (Malaysia), Stadion Australia, My Dinh Stadium (Hanoi, Vietnam), hingga Rajamangala Stadium (Bangkok, Thailand). Lewat situs resminya, AFC juga mengajak para suporter untuk memilih tiga stadion terbaik menurut versi mereka.

Menurut AFC, kelima venue itu merupakan bagian dari stadion megah di Asia yang masuk deretan stadion terbaik di dunia. “Stadion tidak hanya ikonik dari sisi arsitekturnya. Mereka juga rumah bagi klub dan fans–dan beberapa menjadi rumah bagi tim nasional (Timnas),” bunyi pernyataan AFC lewat situs resminya.

“Asia memiliki sejumlah stadiun terbaik di dunia, venue ikonik yang biasanya dipenuhi ribuan fans dalam mendukung tim mereka bertanding. Sembari kita menunggu malam luar biasa itu, AFC akan menyuguhkan stadion terbaik di Asia yang dimulai dari lima stadion paling ikonik di ASEAN,” induk sepak bola di kawasan Asia tersebut menambahkan.

GBK merupakan stadion kebanggaan Indonesia. Stadion yang berada di ibu kota, DKI Jakarta itu juga dikenal sebagai rumah bagi tim nasional (Timnas) Indonesia. Stadion GBK memiliki kapasitas 80 ribu penonton.

Stadion megah ini pertama kali dibangun untuk memfasilitasi perhelatan Asian Games 1962. Stadion ini memiliki keunikan dalam gaya arsitektur pada bagian atap yang dibuat melingar menyerupai bentuk cincin raksasa.

SUGBK awalnya dibangun dengan kapasitas 120 ribu penonton. Namun renovasi yang dilakukan dalam menyambut Piala Asia 2007 lalu membuat kapasitasnya berkurang menjadi 80 ribu penonton. Selain menggelar pertandingan sepak bola, SUGBK juga digunakan untuk berbagai acara lain, seperti konser, acara keagamaan, dan politik.

Mei dan Juni 2020 Seluruh Kompetisi Sepak Bola Asia Dihentikan

Pada Mei dan Juni 2020, tak ada laga sepak bola di tingkat Asia.

Laman xinhuanet.com menulis, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memutuskan untuk menunda semua perhelatan sepak bola skala Asia tersebut.

Pemicunya adalah pandemi corona.

“Keputusan ini untuk meyakinkan keselamatan semua pemain, tim, ofisial, fans, dan semua pemangku kepentingan,” kata pernyataan AFC.

AFC sebelumnya juga menunda laga sepak bola Asia pada Maret dan April tahun ini.

Termasuk yang ditunda adalah Liga Champions Asia.

AFC menambahkan akan mengeksplorasi segala kemungkinan untuk melengkapi Liga Champions Asia 2020 dan penyisihan grup AFC.

Pemain Bhayangkara FC, Saddil Ramdani Terancam 7 Tahun Penjara

Pemain sayap andalan timnas Indonesia nan lincah, Saddil Ramdani, resmi berstatus sebagai tersangka pengeroyokan di Kendari.

Kasatreskrim Polres Kendari, Muhammad Sofyan Rosyidi, membenarkan pembaruan status tersebut.

“Untuk perkara atas nama Saddil sudah naik (dari penyelidikan) ke tingkat penyidikan. Sekarang statusnya sudah kami naikkan sebagai tersangka,” kata Sofyan.

Saddil Ramdani sebelumnya dilaporkan oleh Adrian selaku keluarga korban di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kendari, Sabtu (28/3/2020).

Laporan yang tertuang dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: STPL/109/III/2020 menjelaskan, korban mengalami luka robek di bagian kepala dan bibir, setelah dianiaya pemain Bhayangkara FC tersebut.

Penganiayaan kepada korban atas nama Irwan (25 tahun) terjadi pada Jumat (27/3/2020) di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari, sekitar pukul 18.30 WITA.

Dengan status tersangka, Saddil wajib lapor setiap mendapat panggilan dari Polres Kendari.

Sebagai informasi, saat ini eks pemain Persela Lamongan itu sedang tidak berada di Kota Kendari, melainkan di Kabupaten Muna.

“Saddil sudah diperiksa dua kali. Kalau korban baru sekali diperiksa. Saksi-saksi juga sudah diperiksa, sekitar 4 atau 5 saksi,” kata Sofyan menjelaskan.

Pihak Bhayangkara FC sebelumnya juga telah memutuskan untuk siap menerima keputusan yang diberikan oleh Polres Kendari.

Jika Saddil terbukti bersalah, pemain berusia 21 tahun itu terancam penjara selama tujuh tahun lamanya.

“Tersangka dikenakan Pasal 351 ayat 1 dan 170 KUHPidana, ancaman hukumannya 7 tahun penjara,” ujar Sofyan.

Saddil sebelumnya juga pernah berurusan dengan kepolisian atas laporan penganiyaan kepada mantan kekasihnya.

Akan tetapi, kasus tersebut diakhiri dengan damai antara kedua pihak.

Saat itu, nama Saddil Ramdani juga dicoret oleh pelatih Bima Sakti karena dianggap perilakunya mencoreng sepak bola Indonesia.